Implementasi Peran Literasi dan Inklusi Keuangan Terhadap Pemberdayaan UMKM di Indonesia
Sebagai salah satu sumber kekuatan ekonomi Indonesia terdapatnya UMKM ini sangatlah amat penting dalam kontribusi menyumbang Produk Domestik Bruto Indonesia. Tercatat kontribusi sektor UMKM bagi perekonomian nasional dengan menyumbang 60% Produk Domestik Bruto dan menyerap 97% tenaga kerja nasional.
Peran dari UMKM sendiri sangatlah vital dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, persoalan UMKM pada umumnya ialah masalah permodalan. Maka dari itu, guna mengatasinya terdapat program literasi dan inklusi keuangan yang dapat mendorong sistem keuangan agar dapat diakses seluruh kalangan masyarakat.
Literasi keuangan merupakan pengetahuan, keterampilan dan keyakinan yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas untuk pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan (OJK, 2014).
Sedangkan definisi Inklusi Keuangan, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2016 tentang Strategi Nasional adalah sebuah kondisi dimana setiap anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal yang berkualitas, tepat waktu, lancar dan aman dengan biaya terjangkau sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Dalam menjalankan suatu usaha, seseorang harus mempunyai kemampuan dan pengetahuan tentang keuangan guna mengelola keuangannya secara efektif dan bijak. Oleh karena itu, literasi keuangan sangatlah penting bagi setiap pengusaha. Seperti kasus yang terdapat di Nusa Tenggara Barat (NTB) pertumbuhan kredit UMKM mengalami penurunan dan berada di bawah tren pertumbuhan dari total kredit sejak 2012-2013, hal ini menunjukkan bahwa akses atau konsumsi masyarakat pengusaha UMKM terhadap lembaga keuangan atau perbankan menurun yang bisa disebabkan oleh rendahnya pertumbuhan UMKM yang memenuhi persyaratan pinjaman bank.
Namun, pada 2014 peran lembaga keuangan perbankan dalam mendorong perkembangan dan pemberdayaan UMKM semakin meningkat, dengan besar kredit yang disalurkan mencapai Rp 6,75 triliun, jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 6,60 triliun, dan pada 2018 jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum mencapai Rp 10,99 triliun.
Pengetahuan pengusaha UMKM mengenai literasi keuangan dalam menjalankan usahanya sangat penting dan menjadi dasar untuk meningkatkan kinerja UMKM. Program literasi dan inklusi keuangan untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan UMKM tersebut melahirkan berbagai program. Program yang telah dilakukan OJK yaitu edukasi keuangan untuk UMKM di berbagai kota di Indonesia dan pembuatan materi mengenai kewirausahaan.
Selain itu, OJK juga melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan akses keuangan dengan menginisiasi produk yang dapat dijangkau UMKM, seperti halnya meluncurkan aplikasi “Yuk Sikapi” untuk rintisan usaha baru (start-up business) dan masih banyak lagi yang sudah dilakukan OJK untuk program literasi dan inklusi keuangan di sektor UMKM. Program yang dilakukan OJK ini memberikan pengaruh postif dan signifikan terhadap pemberdayaan dan kinerja UMKM di Indonesia.
Jadi, diharapkan dengan adanya program literasi dan inklusi keuangan bagi UMKM dapat meningkatkan pemberdayaan maupun pertumbuhan perekonomian di Indonesia.
